2.28.2005

Diakah Teman Sejati itu?

Diakah Teman Sejati itu?

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Awalnya adalah penerimaan yang tulus, selanjutnya akan lahir kelapangan jiwa untuk memaafkan kesalahan-kesalahan dan keikhlasan hati untuk menerima kekurangan. Betapa pun banyaknya perbedaan, akan selalu ada titik temu sehingga melahirkan harmoni yang indah. Bukankah orkestra yang megah itu dibangun dengan perbedaan-perbedaan? Bukankah konser nasyid Raihan yang memukau itu dibangun dengan penuh perbedaan? Tetapi, perbedaan itu dikelola dengan baik, dipahami, diterima dan dimanfaatkan untuk menghasilkan harmoni.

Pernikahan pun demikian. Bukan banyaknya persamaan yang menjadi penjamin kebahagiaan. Bukan. Kalau sama-sama pemarah, sama-sama mudah naik pitam dan sama-sama kepala batu? Barangkali bukan rumah-tangga sebutan yang paling tepat untuknya, melainkan arena tinju. Di dalamnya suami isteri saling menunggu kesempatan untuk menyerang setidaknya mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati. Sebalikny, ketika salah satunya seperti ini, komunikasi tidak bisa jalan. Konflik sudah membayang di pelupuk mata, atau bahkan sudah terjadi. Dan perceraian menghantui mereka setiap saat, kecuali jika mereka segera memperbaiki diri dan menyadari kekeliruan-kekeliruannya.

Teringatlah saya pada sebuah kasus. Sebelum menikah, lama sekali mereka berpacaran. Tetapi sesudah 24 tahun mereka menikah, tak kurang dari 15 tahun di antaranya pisah ranjang. Apakah sebabnya? Bukan uang yang kurang. Uang bahkan berlebih buat mereka, meski mereka tak pernah merasa cukup. Tetapi apakah yang sanggup dibeli oleh uang selain benda-benda? Uang hanya bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan nikmatnya tidur di atasnya. Uang bisa membeli makanan, tetapi bukan lahapnya makan. Uang bisa membeli hiburan, tetapi bukan ketenteraman jiwa. Uang bisa membeli kesenangan, tetapi bukan kebahagiaan. Uang juga bisa membeli senyuman, tetapi tidak ketulusan.

Maka apakah yang dapat kita banggakan dengan uang di rumah kita jika untuk terciptanya harmoni uang justru tak sanggup berbuat apa-apa kecuali sedikit? Maka apakah yang dapat kita harapkan dari cantiknya wajah dan eloknya rupa, jika kecantikan wajah itu dapat dengan mudah hilang pesonanya tatkala cemberut? Maka apakah yang dapat kita jadikan sebagai jaminan akan adanya harmoni dalam rumah tangga jika tinggi kedudukan justru hanya melahirkan kerendahan-kerandahan yang tak terelakan?

Ada yang perlu kita benahi. Tentang tenangnya jiwa setelah menikah, perlu kita telusuri sebab-sebabnya, mengapa ada yang menemukan dan mengapa banyak lagi yang tidak.

Mari kita ingat sejenak ketika Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada kita, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri istri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kemu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum:21).

Litaskunuu ilaiha. Kata-kata ini tidak diantarai oleh kata-kata yang lain. Sepanjang yang saya fahami, ini bermakna bahwa ketenteraman dalam perkawinan, ketenangan jiwa sesudah menikah, akan hadir dengan sendirinya sejauh pernikahan itu memang memenuhi syarat untuk mendapatkan sakan (ketenangan). Setiap pernikahan dengan tuntunan yang diberikannya; dilakukan dengan niat yang benar dan proses yang benar. Ibarat membeli produk elektronik, kalau yang kita beli sepenuhnya legal, maka kita akan mendapatkan garansi dari produsennya.

Berbeda dengan sakinah, kata kunci berikutnya diantarai oleh kata ja’ala (diturunkan, dilimpahkan, dijadikan). Butuh upaya yang sunggu-sungguh untuk meraih mawaddah dan rahmah. Jika sudah ada usaha yang sungguh-sungguh, maka Allah ‘Azza wa Jalla yang akan menggenapkan usaha kita. Adapun sakinah, yang kita harus lakukan di waktu-waktu berikutnya adalah merawat dan menjaga agar tidak pudar. Apalagi sampai hilang tak berbekas.

Tetapi....

Kita berbincang kali ini bukan tentang bagaimana merawat cinta dan memupuknya agar bersemi indah. Sebelum berjalan terlalu jauh, mari kita tengok kembali langkah-langkah sebelum menikah. Kalau sekiranya saat ini Anda masih sendiri dan masih sedang bersiap untuk melangkah, mudah-mudahan catatan sederhana dapat menjadi bekal berharga. Adapun kalau saat ini sudah ada pendamping hidup yang menemani hari-hari Anda, saya berharap tulisan ini dapat menjadi renungan untuk mengingat kembali perjalanan. Mungkin ada yang bisa kita perbaiki saat ini. Mungkin ada yang bisa kita insafi atas jalannya pernikahan yang barangkali tak terlalu sesuai dengan harapan sebelum melangkah. Semoga dengan itu, arah pernikahan kita akan kembali menemukan kesejukan dan keindahan. Atau jika selama ini, hari-hari yang kita jalani setelah menikah begitu gersang dan hampa, mudah-mudahan kita segera menemukan harmoni perkawinan yang indah dan membangkitkan semangat.

Kadang ada yang aneh pada diri kita. Kita berharap pendamping yang mau menerima kita apa adanya, tulus mencintai kita, ikhlas mendampingi kita dan bersedia memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Tetapi tatkala mencari pendamping hidup, ada begitu banyak kriteria yang kita tetapkan. Kita mempunyai keinginan yang begitu banyak, dan sebagian besar di antaranya untuk kepentingan diri kita sendiri. Kita lupa bertanya, “kalau alasan untuk memilih dan menerima begitu banyaknya, bagaimana mungkin kita akan bertemu dengan orang yang mau menerima apa adanya? Kalau untuk memilih kita begitu peka terhadap kekurangan, bagaimana mungkin akan mendapatkan orang yang mu berlapang dada menerima kekurangan?”.

Sebagian orang menyibukkan diri dengan penilaian tentang apa yang bisa terjadi kemudian, tetapi lupa mempersiapkan diri bagaimana menata rumah-tangga yang penuh kebahagiaan. Mereka menghabiskan waktu untuk mencari pasangan yang ideal, tetapi tak pernah menyempatkan waktu untuk menjadiyang ideal untuk pasangannya. Mereka bahkan merasa tak cukup dengan kriteria yang dituntunkan oleh Rasulullah saw..

Astagifirullahal ‘adzim... alangkah jahilnya kita. Ataukah kita yang sesungguhnya sangat sombong di hadapan Allah, padahal ilmu sudah kita miliki?

Astaghfullahal ‘adzim...Laa ilaaha illa Anta, subhana-Ka inni kuntu minadz dzalimin.

Kadang ada di antara kita yang menginginkan suami melebihi seorang Nabi. Artinya, bahkan Nabi saw. pun tidak memenuhi kriteria itu apabila ia menyadari. Demikian sulitnya kriteria itu dipenuhi sampai-sampai ia terkalahkan oleh dirinya sendiri, sehingga ketika tiba masa di mana ia tak sanggup lagi menahan sepinya hidup, ia akhirnya memutuskan menikah. Tetapi ketika itu, sudah tidak ada orang-orang yang patut yang mau datang meminang.

Astaghfirullahhal ‘adzim... betapa sering kita mengaku beriman, tetapi tidak percaya janji-janji-Nya dalam Al-Qur’an. Kita mengaku mengimani Allah Yang Menjamin Rezeki setiap makhluk-Nya, tetapi untuk menikah harus dengan orang yang sudah mapan ekonominya. Padahal kekayaan bisa hilang seketika, dan yang tak hilang bisa kehilangan barakahnya. Kalau harta sudah kehilangan barakahnya, dimana kedamainan hati akan kita cari? Kalau harta sudah kehilangan barakahnya, kemana kita akan pergi untuk menemukan tulusnya cinta? Kemanakah kita akan mencari tempat untuk berteduh jika rumah ang luas membuat hati kita sempit?

Kemana? Ya... ya... ya..., kemana akan kau cari? Kemana engkau akan pergi, jika terhadap dirimu sendiri pun engkau telah lupa?

Kita lupa bahwa jauhnya harmoni dari rumah kita, kerapkali karena kita sendiri yang salah dalam menetapkan harapan. Berikut ini beberapa harapan yang rawan terhadap kekecewaan (ssst... bukan karena pasangannya yang mengecewakan, tapi karena sikap kita yang egoistik):

  • Aku ingin suami yang mau penuah perhatian
    “Perhatikanlah aku, tapi jangan berharap perhatian dariku.” Orang ini mudah mengalami kekecewaan karena merasatidak diperhatikan suaminya.

  • Aku ingin istri yang senantiasa mengerti perasaanku.
    “Apakah aku harus bicara? Dia kan seharusnya sudah mengerti seperti apa perasaanku.” Jangan kaget kalau ia mudah ngambek, tidak peka terhadap perasaan isterinya, tapi justru merasa istrinya tidak mau mengerti perasaannya.

  • Aku ingin pendamping yang mau mendengarkan ketika aku butuh didengarkan dan bisa menjadi teman bercerita.
    “Dengarkan aku dulu! Aku belum selesai bercerita. Sudah berapa kali cerita itu engkau sampaikan padaku?” Kenyataannya, tidak ada pendamping yang benar-benar bisa mendengar kapan saja, bercerita saat dibutuhkan, dan diam saat tidak diinginkan kecuali...pesawat televisi.

  • Aku mau istri yang tidak pakai kaca-mata.
    “Sering-seringlah bercelak. Tak ada dana untuk beli kaca mata. Apalagi berobat.” Sebenarnya yang dibutuhkan orang ini bukan istri, tetapi pramugari.


Ini hanya sebagian dari alasana-alasan yang sering muncul ketika seseorang mencari pendamping hidup, dan semuanya bersifat egoistik. Orang-orang semacam ini tidak siap berumah-tangga. Ia tidak siap menjalani kewajiban pernikahan dengan menjalankan kewajiban secara seimbang, mempergauli dengan baik (mu’asyarah bjil ma’ruf) dan berkata dengan perkataan yang baik (qaulan ma’rufah). Ia tidak siap untuk itu. Apalagi mendahulukan kewajiban dan mengakhirkan hak. Alasan-alasan semacam ini sangat rawan konflik. Kekecewaan perkawinan sangat mudah terjadi.


Sepanjang pengalaman saya menjumpai orang-orang yang sering bermasalah dalam perkawinannya, sebagian besar bersebab pada alasan awal memilih pendamping. Mereka mudah kecewa bukan karena pendampingnya tidak memiliki kebaikan, tetapi karena banyaknya harapan yang secara tidak sadar terus menerus menjadi pembanding. Sama seperti ketika kita mendengar lantunan nasyid merdu. Tetapi suara munsyid yang paling indah, bisa terasa hambar dan biasa-biasa saja kalau harapan kita terlalu tinggi dan dalam perkawinan, semua itu banyak bermula dari alasan awal yang menggerakkan kita menentukan pilihan.


Maka...


Berendah hari dalam menetapkan pilihan, insya Allah justru akan membukakan pintu-pintu kebaikan yang sangat besar. Cukuplah hal-hal yang mendasar saja sebagai patokannya. Semoga dengan itu Allah ‘Azza wa Jalla menggenapkan yang kurang dan menyempurnakan tiap-tiap perkara yang masih perlu dibenahi. Jika Allah sudah menetapkan barakah yang besar bagi pernikahan kita, insya-Allah setiap langkah menjadi kebaikan. Dan kalau ada airmata yang sesekali harus tumpah, ibarat tanaman, ia menyirami benih-benih kebaikan. Bukankah nikmatnya masakan apabila telah bercampur garam seukuran yang cukup? Bukankah anak-anak kadang harus demam sebelum bisa berjalan?


Teringatlah saya sabda Nabi saw:
“Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk meminang) yang engkau ridha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).


Di dalam hadis lain yang sangat populer, Nabi saw. pernah mengingatkan agar kita memilih karena zatid dien (keberagamaanya), niscaya akan beruntung. Di bagian lain ada anjuran untuk memilih yang waluud (subur rahimnya) dan waduud (penyayang). Dua hal ini, lebih mendorong kita untuk menikah sebagai upaya melahirkan generasi yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Semua ini berbicara tentang satu hal: idealisme! Ada idealisme yang harus diperjuangkan halam pernikahan. Bukan menyibukkan diri memperjuangkan kriteria-kriteria ideal yang harus dicapai tentang seorang pendamping. Yang pertama membawa kita menemukan teman sejati. Sedangkan yang kedua justru dapat menjauhkan kita dari kesejatian dalam perkawinan.


Berkenaan dengan ini, ada yang menarik untuk kita renungkan. Sepanjang saya perhatikan, umumnya semakin lambat seseorang menikah akan semakin banyak kriteria yang ditetapkan, kecuali pada orang-orang yang berhati-hati dengan dirinya. Agaknya, ini banyak berkait dengan masa peka di tiap usia. Munculnya kriteria yang semakin banyak dan sekaligus menjadikan orang semakin peka terhadap apa yang “tidak ideal” kerap muncul setelah usia menginjak 30 tahun; usia dimana seseorang berada pada masa ideal menjadi orang tua awal. Usia ini memang peka terhadap sesuatu yang bersifat ideal. Bukan terhadap pendamping hidupnya, tetapi terhadap anak yang dicita-citakan untuk masa depan. Tetai jika menikah saja belum? Anda sendiri yang bisa menjawab.

8.19.2004

Bila Dia Tak Seperti yang Dibayangkan

eramuslim - Bayangan tentang pasangan sebelum menikah tak sepenuhnya mirip dengan realitas yang dihadapi setelah pernikahan. Akan ada hal di luar dugaan tentang pasangan yang kita temui. Lalu, jika kejutan yang muncul itu buruk, bagaimana cara menyikapi dan mengantisipasinya.

Hanifah (bukan nama sebenarnya) benar-benar shock. Sore ini ia memergoki suaminya, yang baru menikahinya beberapa hari lalu, mamiliki tattoo pada pangkal lengannya. Tattoo bergambar laba-laba itu terpatri permanen di pangkal lengan kanannya.

Ini memang kejutan besar bagi Hanifah. Pasalnya, suaminya memang dikenal sebagai pria saleh yang berhati lembut oleh teman-teman dekatnya. Siapa yang sangka dia mantan preman. Ketika ta'aruf di saat proses pernikahannya Hanifah tak berminat bertanya tentang masa lalu pria yang kini telah menjadi suaminya itu. "Toh semua orang disekitarnya mengatakan dia orang baik, buat apa lagi mengorek masa lalunya," Begitu fikirnya waktu itu. Namun kini ketika ia menemukan tattoo itu tak urung Hanifah merasa mendapat kejutan besar.

Hanifah benar dengan sikapnya yang tak mau mengorek aib masa lalu dari orang yang ingin meminangnya itu. "Mengenai aib masa lalu, kalau memang dia sudah taubat, menurut saya tidak usah lagi dicari-cari. Biarlah berlalu. Allah saja menutup aib, mengapa kita tidak bisa? Yang penting sekarang dia sudah baik," Begitu pendapat Herlini. Namun keterkejutan, juga manusiawi , siapa yang membayangkan seorang yang lembut hati, rajin beribadah pula memiliki tattoo di lengannya. Untungnya Hanifah cepat tersadar dari keterkejutannya itu, sehingga perasaan dan pikirannya tak terhanyut dalam masalah itu. "Yang penting sekarang ia sudah jadi laki-laki yang sholeh," katanya dalam hati. Ia pun mengukuhkan kembali niat menikah adalah untuk menjadikan rumah tangga sebagai ladang amal bagi dirinya.

Apa yang dialami oleh Hanifah merupakan salah satu bentuk kejutan yang mungkin muncul setelah pernikahan. Munculnya sifat atau kebiasaan buruk yang selama ini tak pernah terungkap dapat menimbulkan percecokan yang berkepanjangan. Apa lagi pada pasangan yang mengawali pernikahan mereka dengan pacaran. "Aku kenal dia dulu tak seperti ini!" Biasanya kalimat seperti ini yang keluar dari mulut mereka, plus ekspresi yang penuh kejengkelan.

Lalu bagaimanakah menanggulangi masalah ini? Berikut pendapat beberapa nara sumber yang dihubungi Safina.

Fauzil Adhim, Psikolog

Memang menurut Fauzil Adhim, pacaran membawa resiko sulitnya merubah persepsi tentang pasangan. Orang akan memandang pasangannya seperti apa yang ia ketahui dulu. Jika sekarang ia menemukan sesuatu yang berbeda, ia jadi sulit menerima dan menyesuaikan diri.

Di sinilah letak pangkal masalahnya. Menurut Fauzil persepsi tentang pasangan akan menumbuhkan harapan-harapan tertentu terhadap perkawinan. Resiko dari setiap haarapan adalah kekecewaan, daan kekecewaan tentu saja akan mempertajam perselisihan dan memperlemah kemampuan menyesuaikan diri.

Lebih lanjut Fauzil menjelaskan, "Jika marital expectation (angan-angan perkawinan, red) berbanding terbalik dengan marital satisfaction (kepuasan perkawinan), tidak demikian halnya dengan marriage orientation (orientasi atau landasan menikah). Semakin mendasar orientasi perkawinan seseorang, insya Allah semakin mudah meraih kebahagiaan perkawinan." Ini artinya kebahagiaan perkawinan lebih berkait dengan apa yang menggerakkan seseorang menikah dan menjalani pernikahan.

Menurut psikolog yang juga dikenal sebagai Ustadz ini, hadits-hadits tentang pernikahan dan memilih jodoh lebih banyak mengajarkan soal membangun marriage orientation yang baik, mantap dan mendasar. "Ini mempengaruhi komitmen kedua pihak. Jika harapan membawa kita banyak menuntut pasangan, maka komitmen lebih membimbing kita untuk menerima dan pada saat yang sama berbuat," katanya.

Fauzil kembali menegaskan, "Kenyataannya, yang banyak mempengaruhi percekcokan dan kehancuran rumah tangga bukanlah masalah pengenalan yang kurang mendalam dan ketidaksesuaian pasangan dengan bayangan semula."

Baginya yang terpenting adalah memiliki sikap mental yang dewasa dan matang. "Bahwa ada perbedaan, itu sangat wajar. Ada yang tidak kita sukai, juga sangat wajar." Ia menambahkan, terhadap diri sendiri pun, seringkali ada yang tidak disukai. Ia mengambil contoh misalnya seseorang ingin menjadi orang yang rajin qiyamul lail, tetapi sering tak sanggup bangun meski saat itu sudah terjaga. "Ini jelas tidak ia sukai, dan orangnya adalah dirinya sendiri. Tetapi apakah karena itu ia harus menyakiti diri sendiri? Tidak. Yang diperlukan adalah menata, memperbaiki dan memulihkan (jika sebelumnya baik)." Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita melakukan penyesuaian diri, menyatakan ketidaksetujuan dan ketidaksukaan serta bagaimana cara mengubah sikap pasangan.

Bagaimana kalau dia tidak mau diubah? "Pertanyaan itulah yang justru membuat perubahan tidak mungkin terjadi. Ini pertanyaan pesimistik, dan membuat kita cepat lelah."

Bagi Fauzil segala sesuatu bersifat tadarruj (bertahap). Tanpa melalui tahap-tahap yang wajar, yang terjadi bukan perubahan positif. "Tetapi kenapa kita tidak tahan menjalani proses perubahan? Sepanjang pengalaman klinis, orang yang tidak sabar berproses umumnya justru orang yang memang perlu memperoleh terapi, karena merekalah sesungguhnya yang paling bermasalah, meskipun kelihatannya baik-baik," tuturnya. Ada yang harus dibenahi dalam diri mereka, dalam jiwa mereka. Atau mereka merasa dirinya sangat baik, bahkan teramat baik atau malah sempurna, sehingga maunya pasangan berubah seketika, saat itu juga.

Memang adakalanya keluhan tentang pasangan yang tidak mau berubah disebabkan oleh persoalan psikologis pasangan, tetapi itu sifatnya kasuistik. Sesuatu yang bersifat kasuistik, tidak bisa dijadikan dalil umum.

Sebenarnya ada kekuatan besar yang mampu membuat orang tangguh dalam menghadapi segala kesulitan, termasuk problema rumah tangga, kekuatan ini bernama niat. Dalam bahasa psikologi sering diungkapkan dalam istilah intensi, motivasi maupun orientasi. "Ini mempengaruhi persepsi kita dalam menghadapi segala sesuatu," kata Fauzil.

Seorang petualang, menganggap kesulitan saat mendaki gunung sebagai tantangan yang memberi kebahagiaan, kepuasan dan makna. Mereka bahkan sengaja melewati jalur sulit yang belum pernah, atau sangat jarang, dilalui pendaki lain. Tetapi seorang yang datang ke gunung sekedar untuk rekreasi dan memperoleh nikmatnya pemandangan, sulitnya medan akan terasa sebagai derita berkepanjangan.

Menikahpun demikian, ada yang berangkat dengan bekal mental sebagai petualang yang ingin menancapkan cita-cita besar, ada yang berangkat dengan romantisme belaka, tetapi dirinya sendiri tak sanggup membangun suasana romantis. "Nah, kunci dari semua itu adalah niat, termasuk bagaimana kita memandang pernikahan serta bagaimana kita menempatkan pernikahan, sebagai tempat untuk dilayani saja," tutup Fauzil Adhim.

Herlini Amran, Ustadzah

Herlini mengatakan ada dua hal yang harus dilakukan setiap pasangan untuk mencapai kebahagiaan yaitu ta'aruf pasca nikah yang mendalam serta membangun komitmen pernikahan sejak awal. Ia menjelaskan, "Pertama-tama yang harus kita ingat, proses pernikahan yang kita lakukan adalah tanpa pacaran. Nah, setelah menikah diperlukan proses ta'aruf yang lebih mendalam. Dan sebelum pernikahan terjadi, sudah ada kesepakatan bahwa pernikahan ini adalah membentuk rumah tangga sebagai ladang amal atau ladang ibadah."

Herlini juga berpendapat orientasi dan komitmen pernikahan ini dapat menumbuhkan rasa saling memahami di saat munculnya perbedaan antara suami-istri. Ia menambahkan, "Dengan komitmen awal yang dibuat sebelum menikah tadi maka kita ada keinginan untuk saling membahagiakan pasangan kita."

Ta'aruf pasca nikah dilakukan dengan banyak-banyak dialog dan komunikasi. "Biarkanlah pasangan kita yang mengenalkan dirinya pada kita. Misalnya dengan mengatakan, 'saya tuh orangnya begini, begitu, kalau saya marah kamu diam dulu, nanti kalau suasana adem baru perbincangan dilanjutkan.'," katanya.

Selain itu dituntut sikap saling menerima kekurangan pasangan kita, tentunya masing-masing pribadi juga harus mau saling membangun dirinya sendiri.

Menurut Herlini, "manusiawi sekali jika seorang suami atau istri kurang berkenan dengan perilaku pasangannya." Tapi itu bisa diredam dengan banyak-banyak berlapang dada, sabar. "Yang penting diingat, kita tidak mungkin membandingkan diri kita dengan pasangan kita, karena pakaian kita belum tentu cocok dengan orang lain," kata ustadzah muda ini.

Kunci keberhasilan menyikapi perbedaan karakter dengan pasangan adalah syukur dan bersabar. Bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan, dan bersabar dengan kekurangan pasangan.***

Mengenal Pasangan Pasca Pernikahan
(Pengalaman Ali Muakhir Penulis Novel dan Komik)

Sebelum menikah dulu, saya sudah mengenal istri saya sekitar 1,5 tahun. Memang tidak kenal begitu dekat, tapi sudah terekam dalam benak saya, dia tuh orangnya seperti ini, sifat-sifatnya kira-kira seperti itu. Dan saya sama sekali tidak mencari sumber informasi untuk menggali tentang istri saya, saya yakin saja. Memang sih waktu proses khitbah dulu sempat dapat telepon yang mengatakan sesuatu yang tidak enak tentang istri saya. Saya sempat shock, tapi karena berita itu tidak jelas, saya anggap itu cobaan, dan saya maju terus.

Setelah menikah, rasanya wajar kalau kita menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan kita pada pasangan. Kuncinya bagi saya adalah komunikasi. Masalahnya istri saya itu sangat pendiam, sangat sulit untuk membuatnya terbuka. Seringkali saya berusaha memancing dia untuk banyak bercerita,banyak curhat, tapi sulit. Dia selalu takut salah ngomong, jadi kalau berbicara juga sangat memilih kata, sehingga susah untuk tahu isi hatinya yang mendalam. Sampai sekarang kita sudah lima bulan menikah, saya masih terus berusaha mengenal dia.

Untuk saling mengenal dan mencari tahu tentang pasangan, biasanya kita mengadakan koreksi atau evaluasi. Dulu awal menikah, seminggu sekali setiap Sabtu saya ajak dia makan di luar. Di sana kita review saling bicara, saling terbuka, kira-kira ada tidak sih tingkah laku saya yang menyakiti dia, atau apakah kita telah melakukan kesalahan, demikian pula sebaliknya. Proses evaluasi itu terus diupayakan, tapi sekarang sudah sebulan sekali, mungkin nanti tiga bulan sekali, pokoknya harus ada. Dari sana kan komunikasi terbangun, dicari jalan keluarnya, bagaimana mencari solusinya, dan ada upaya memperbaiki diri.

Saya lebih suka menggali segala sesuatunya tentang istri secara langsung, tidak melalui orang lain, karena saya takut yang saya dapatkan kurang enak, nanti kitanya jadi berpikir negative. Dan saya lebih suka apa adanya. Apa adanya diri kita ya kita jabarkan.

Karena saya sulit membuat istri saya yang pendiam menjadi banyak bicara, terutama untuk mengungkapkan isi hatinya, saya cari solusi dengan tulisan. Ternyata berhasil, bahkan dia bisa marah-marah lewat sms atau note.

Sebagai contoh, saya orangnya terlalu mandiri dari dulu, awalnya saya tidak menyadari kalau kemandirian saya membawa masalah bagi istri saya, dia jadi merasa tidak dilibatkan dalam mengambil keputusan. Sekarang saya selalu mengupayakan apa-apa saya bicarakan. Sebagai suami saya tidak mau mengekang dia, dia mau kemana asal ijin, saya tidak masalah. Saya nggak mau membuat dia terpaksa.

Selain komunikasi, saya juga menekankan kita harus memulai dari hal yang kecil. Dari evaluasi itu terbaca apa kesalahan kita, jadi kita ubah secara bertahap.