3.29.2005

Dahsyatnya Sakaratul Maut, Siapkah kita untuk Menghadapinya ?

Renungan

"Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar." (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri) (QS. Al-Anfal {8} : 50).

"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu !" Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". (Qs. Al- An'am : 93).

"Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang". (H.R. Ibnu Abu Dunya).

Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Alloh, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan.
Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka'at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Alloh Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Alloh Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.

"Assalamu'alaikum, yaa Nabi Alloh". Salam Malaikat Izrail,
"Wa'alaikum salam wa rahmatulloh". Jawab Nabi Idris a.s.

Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail.
Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya "menghadap". Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja. Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan "tamunya" itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan.

"Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita". pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).
"Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)" kata Nabi Idris a.s.
"Kenapa ?" Malaikat Izrail pura-pura terkejut.
"Buah-buahan ini bukan milik kita". Ungkap Nabi Idris a.s. Kemudian Beliau berkata: "Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram".

Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan ? pikir Nabi Idris a.s.

"Siapakah engkau sebenarnya ?" tanya Nabi Idris a.s.
Aku Malaikat Izrail". Jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

"Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?" selidik Nabi Idris a.s serius.
"Tidak" Senyum Malaikat Izrail penuh hormat.
"Atas izin Alloh, aku sekedar berziarah kepadamu". Jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.

"Aku punya keinginan kepadamu". Tutur Nabi Idris a.s
"Apa itu ? katakanlah !". Jawab Malaikat Izrail.
"Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Alloh SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku". Pinta Nabi Idris a.s.
"Tanpa seizin Alloh, aku tak dapat melakukannya", tolak Malaikat Izrail.

Pada saat itu pula Alloh SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s. Dengan izin Alloh Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat.

Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Alloh SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Alloh mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali.

"Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku ?" Tanya Malaikat Izrail.
"Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti". Jawab Nabi Idris a.s.
"Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu". Kata Malaikat Izrail.

MasyaAlloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s. Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita ?

Siapkah kita untuk menghadapinya ?


~dari berbagai sumber~

3.28.2005

Mencintai Itu Keputusan

Karya : Anis Matta

Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya.
Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia.
Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah.
Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya.
Sebentar. kemudian ia pun berkata,
"Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu temui di sini". Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila.
Selanjutnya adalah bukti.

Sebab cinta adalah kata lain dari memberi.
sebab memberi adalah pekerjaan..
sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat danmelindungi itu berat.
sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama.
sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh.

maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia mengatakan,"Aku mencintaimu".
Kepada siapapun!
Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian disitu.

Aku mencintaimu, adalah ungkapan lain dari Aku ingin memberimu sesuatu.
Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari,
"Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu
untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia..."
"aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimalmungkin..."
"aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan padamu ..."
"aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu...."

Dan proses pertumbuhan itu taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadapintegritas kepribadian kita.
Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, "Aku mencintaimu", kamu harus membuktikan ucapan itu.
Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.
Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap.
Tidak ada cinta tanpa kepercayaan.
Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti.
Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.
Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.

Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu, konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional.

Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit. Di situ konsistensi teruji. Di situ juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam waktu yang longgar.

Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya mengatakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat bagi yang lain. Bahkan setelah sang pencinta mati.

Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu.


~life without love is like night without stars~

3.23.2005

The power of Love

Seperti sebuah tiupan angin, lembut dan mengantarkan kesejukan. Angin, sesuatu hal yang abstrak tapi ketika dia sudah bertindak kasar, jangankan segundukan gunung pasir yang tinggi, bahkan gedung angkuh dan menara pencakar langit bisa luluh lantak tanpa sisa. Demikian pula cinta, ia ditakdirkan sebagai satu benda tanpa bentuk, nama untuk beragam perasaan, judul untuk semua gemuruh hati, muara dari berjuta makna, wakil dari harapan tak terkira, kekuatan tak terartikan.

Kisah itu pun bermuara pada jatuh cinta, suatu peristiwa paling penting dalam sejarah kepribadian manusia sepanjang masa. Cinta, mampu mengubah seorang pengecut jadi pemberani, yang pelit jadi dermawan, yang malas jadi rajin, yang pesimis jadi optimis, yang kasar jadi lembut, yang lemah jadi kuat. Cinta merajut emosi manusia, begitu agung bahkan rumit sekaligus. Maka syair Rabiah al adawiyah, Rumi, Iqbal Tagore, Kahlil Gibran, sampai legenda Romeo dan Juliet, Siti Nurbaya, Cinderella menjadi begitu abadi tersimpan di dalam lembar sejarah hidup manusia. Bahkan penderitaan akibat kekecewaan kadang terasa manis karena cinta yang melatarinya: seperti Gibran yang kadang terasa menikmati Sayap-sayapnya yang Patah.

Sebuah kisah dari sang raja yang galau karena sang putra mahkotanya ternyata seorang pemuda, apatis, dan tak berbakat. Suatu saat raja mencoba mengubah pribadi putranya dengan kata kunci: “The power of love”. Sang raja kemudian mendatangkan gadis-gadis cantik ke istananya. Istana pun seketika berubah menjadi taman: semua bunga mekar di sana. Dan terjadilah sesuatu yang diharapkan, putranya jatuh cinta dengan seseorang diantara mereka. Tapi kepada gadis itu raja berpesan,”Kalau puteraku menyatakan cinta padamu, bilang padanya ,”Aku tidak cocok untukmu, Aku hanya cocok untuk seseorang raja atau seseorang yang berbakat menjadi raja.” Benar saja, putera mahkota seketika tertantang. Maka ia pun mempelajari segala hal yang harus diketahui oleh seorang raja dan ia pun melatih diri menjadi seorang raja. Dan seketika luar biasa, bakat seorang raja meledak dalam dirinya. Ia bisa, ternyata ia bisa! Tapi karena cinta.

Cinta telah bekerja dalam jiwanya, sempurna. Dan memang selalu begitu, mengali jiwa manusia ke dalam, terus mendalam, sampai mata air keluhuran hati ditemukannya. Maka dari sana menyeruak luar biasa semua potensi kebaikan dan keluhuran dalam dirinya. Dari sana, mata air keluhuran mengalir deras, membanjir dan desak mendesak hingga bermuara pada perbaikan watak dan penghalusan jiwa. Cinta membuat manusia jadi manusia, dan memperlakukan manusia ditempat kemanusiaan yang tinggi.

Kalau cinta kita kepada Allah membuat kita mampu memenangkan Allah dalam segala hal, maka cinta kepada manusia, hewan, tumbuhan atau apa saja, mendorong kita mempersembahkan semua kebaikan yang diperlukan untuk yang kita cintai. Dengan kata lain, cinta suci harus mampu membawa sesuatu yang dicintai pada kebaikan, pada hakikat cinta sejati, pada cinta Allah yang abadi. Jatuh cinta membuat manusia merendah, tapi sekaligus bertekad penuh untuk menjadi lebih terhormat.

“Kamu takkan pernah sanggup mendaki sampai ke puncak gunung iman, kecuali dengan satu kata: cinta. Imanmu hanyalah kumpulan keyakinan semu dan beku, tanpa nyawa, tanpa gerak, tanpa daya hidup, tanpa daya cipta. Kecuali ketika ruh cinta menyentuhnya. Seketika ia hidup, bergeliat, bergerak tanpa henti, penuh vitalitas, penuh daya cipta, bertarung dan mengalahkan diri sendiri, angkara murka dan syahwat.” (Annis Matta)

Seperti itu pulalah cinta bekerja ketika harus memenangkan Allah atas diri sendiri dan yang lain, atau memenangkan iman atas syahwat.

• Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang maksudnya:
"Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Ali Imran: 31)

• Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya:

"Tidaklah beriman (secara sempurna) salah seorang dari kamu sehingga aku lebih ia cintai daripada orangtuanya, anaknya dan segenap manusia." (HR. Al-Bukhari)

• Ayat di atas menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah adalah dengan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Mentaati apa yang beliau perintahkan dan meninggalkan apa yang beliau larang, menurut hadis-hadis shahih yang beliau jelaskan kepada umat manusia. Tidaklah kecintaan itu dengan banyak bicara dengan tanpa mengamalkan petunjuk, perintah dan sunnah-sunnah beliau.

• Adapun hadis shahih di atas, ia mengandungi pengertian bahwa iman seseorang muslim tidak sempurna, sehingga ia mencintai Rasulullah SAW melebihi kecintaannya terhadap anak, orang tua dan segenap manusia, bahkan –sebagaimana ditegaskan dalam hadis lain– hingga melebihi kecintaannya terhadap dirinya sendiri.
Pengaruh kecintaan itu tampak ketika terjadi pertentangan antara perintah-perintah dan larangan-larangan Rasulullah SAW dengan hawa nafsunya, keinginan isteri, anak-anak serta segenap manusia di sekelilingnya. Jika ia benar-benar mencintai Rasulullah SAW, ia akan mendahulukan perintah-perintahnya dan tidak menuruti kehendak nafsunya, keluarga atau orang-orang di sekelilingnya. Tetapi jika kecintaan itu hanya dusta belaka maka ia akan mendurhakai Allah dan RasulNya, lalu menuruti syaitan dan hawa nafsunya.

Cinta di atas cinta, dan adakah yang lebih mulia cintanya dari suatu Zat yang begitu mencintai kita?, yang tak pernah meninggalkan kita di saat kita galau dan bimbang. Cinta, semuanya atas nama cinta, bukanlah suatu hal yang salah apalagi tercela. Ia mampu mengangkat manusia menduduki posisi paling agung, ketika sang manusia mampu menempatkannya pada posisi terhormat di relung hatinya. Allah memberikan kesempatan pada kita untuk menghirup dunia ini, itu atas cinta Allah pada kita. Allah telah menciptakan kita begitu sempurna, memberikan kita raga begitu rupa, memberikan kita waktu begitu raya, memberikan semuanya begitu berharga. Allah pulalah yang selalu di sisi kita, melihat kita, mendengar kita, membimbing kita menuntun kita walau kita kadang luput untuk mengingat-Nya. Allah pulalah yang selalu hadir dalam kesendirian kita, di saat kita tersudut dalam keperihan, di saat kita terpuruk dalam kedukaan, di saat semua lupa pada kita. Allah pulalah satu-satunya yang tak pernah mengecewakan kita atas sesuatu hal yang kita harap. Allah-lah satu satunya yang Maha Pemberi terbaik bagi hamba-hambanya. Begitu besarnya cinta Allah kepada kita, tak tertandingi seluas langit dan bumi pun. Apakah kita, manusia, masih mampu menggantikan cinta-Nya dengan seorang hamba manapun yang lemah dan papa?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55:13)


Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS.Al Hujurat:7).

Wallahu’alam Bishawab

Sumber: aku lupa darimana aku ambil tulisan ini, yang jelas ini bukan tulisan aku.

3.15.2005

Hati yang Sakit

Rasulullah Saw. bersabda: “Ingatlah bahwa dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya.
Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati
". (HR Bukhari dan Muslim).

Ada istilah-istilah dalam alquran untuk menyebut hati. Pertama hati yang bermakna sebenarnya. Jika kita merasa sakit hati, untuk hati yang semacam ini, hanya dokter yang bisa membantu mengobatinya. Kedua qalbu. Qalbu memiliki sifat tidak konsisten, mudah dibolak-balikkan. Qalbu pula memiliki dua sifat, berkecenderungan baik dan buruk.
Qalbu inilah yang menentukan sholeh tidaknya seseorang. Jika kita bagi komponen manusia ini, maka kita dapat membedakan manusia menjadi tiga komponen: jasad, akal dan hati.

Sholeh tidaknya seseorang tidak ditentukan: jasadnya yang kuat, akalnya yang cerdas, tapi ditentukan oleh qalbunya yang sehat. Jadi, untuk menjadi sholeh yang harus diperbaiki bukan jasad atau akal tapi qalbu. Tapi bukan berarti kita menomorduakan jasad atau akal. Misalnya kita tak pernah mandi, berolahraga dan belajar. Bukan itu maksudnya, selain kita menjaga hati, kita juga mesti memperbaiki jasad dan akal kita.

Ada tiga keadaan qalbu:

1. Qalbu yang mati.
Bagaimana ciri-ciri qalbu yang mati ini. Pernahkah kita mengajak teman/kawan untuk mengaji. Orang yang hatinya mati akan susah menerima ajakan ini. Selalu saja ada alasan untuk menolak. Seperti jika dinasihati masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Untuk kasus hati seperti ini ada dua usaha yang mesti kita lakukan, yaitu ajak dan doakan. Tentunya mengajak dengan cara dan situasi yang sesuai.

2. Qalbu yang sakit
Ciri-ciri:
a. tidak merasakan nikmat dalam beribadah
Jika kita beribadah merasa gersang maka ini adalah pertanda hati kita sedang sakit. Kita sholat tapi tidak merasa apa-apa, biasa saja.

b.jika berdoa pesimis tidak terkabul
Bukankah Allah telah berfirman: “Berdoalah (minta) kepadaKu, nescaya akan Aku kabulkan”. (Al-Mukmin:60). Jika kita berdoa kita sendiri tidak yakin doa kita akan dikabul. Bukankah dalam ayat tersebut Allah telah berjanji bahawa setiap doa pasti akan dikabulkan-Nya.

c. tidak merasa berdosa jika berbuat salah
Saya ingat ceramah seorang ustadz. Hati yang bersih itu ibarat baju putih. Jika baju itu terkena noda hitam sedikit, awalnya akan kelihatan. Demikian juga untuk hati yang sehat. Jika kita melakukan kesalahan, kita akan merasa berdosa.

Tapi jika tiap hari terkena noda, maka baju yang putih tadi akan menjadi hitam dan pada suatu saat noda hitam itu tidak akan kelihatan. Jadi, jika kita melakukan dosa dan dosa-dosa itu kita ulangi, nanti pada suatu saat jika kita melakukan kesalahan/maksiat lagi kita akan tidak merasa berdosa. Oleh itu jika kita merasa bersalah mesti cepat diperbaiki, cepat taubat.

d. sering terjebak dalam lingkaran setan
Maknyanya dapat diambil suatu contoh kita berhenti dari satu kesalahan kemudian masuk kepada kesalahan yang lain. Artinya setelah berhenti melakukan suatu dosa, kita melakukan dosa yang lain.

3. Qalbu yang sehat
Ciri-ciri dari qalbu yang sehat merupakan kebalikan daripada ciri-ciri hati yang sakit.
a. merasa nikmat jika beribadah
b. yakin doa akan dikabul
c. jika berbuat dosa/maksiat ia akan ingat kepada Allah, berhenti dari kesalahan, dan langsung memperbaiki diri kemudian tobat.

Allahumma ya muqallibal quluubi, tsabit qalbi alaa diinika wa ala ta’atika”. (Ya Allah yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku kepada dien/agama dan ketaatan kepada-MU).

3.12.2005

Tidak Ada Kebetulan dalam Ilmu Allah

Abraham Lincoln menjadi presiden Amerika tahun 1860
John F. Kennedy menjadi presiden Amerika tahun 1960.
Pengganti Lincoln bernama Johnson (Andre) lahir tahun 1808
Sedangkan pengganti Kennedy juga Johnson (Lindon) lahir tahun 1908
Kedua presiden, Lincoln dan Kennedy tewas terbunuh

Pembunuh Lincoln lahir tahun 1839, pembunuh Kennedy lahir tahun 1939
Kedua pembunuh presiden ini terbunuh sebelum sempat diadili.
Sekretaris Lincoln bernama Kennedy, sekretaris Kennedy bernama Lincoln
Kedua sekretaris menyarankan kepada presiden agar tidak pergi ke tempat dimana kemudian terjadi pembunuhan, namun keduanya menolak.
Pembunuh Lincoln melakukan pembunuhan di teater kemudian bersembunyi di pasar swalayan.
Pembunuh Kennedy, sebaliknya.

Apakah semua itu "kebetulan"?
Dalam kehidupan Rasulullah terdapat pula hal-hal yang dapat dinamai kebetulan-kebetulan.
Beliau lahir, hijrah dan wafat pada hari Senin bulan Rabiul awwal.
Ayah beliau bernama Abdullah (pengabdian kepada ALLAH)
Ibunya Aminah (Kedamaian dan Keamanan)
Bidan yang menangani kelahirannya bernama Asy-Syifa (kesembuhan, perolehan sempurna dan memuaskan).
Sedangkan yang menyusukan beliau bernama Halimah (Yang Lapang Dada).
Beliau sendiri diberi nama Muhammad (Yang Terpuji), suatu nama yang sebelumnya tidak dikenal sehingga menimbulkan banyak pertanyaan, "mengapa kakeknya menamainya demikian?"

Apakah nama-nama tersebut merupakan kebetulan-kebetulan atau ia merupakan isyarat tentang kepribadian manusia ini?
Suatu peristiwa yang tidak sejalan dengan kebiasaan atau terjadi secara tidak terduga biasa kita sebut "kebetulan".

Keterbatasan kemampuan dan pengetahuan mengantarkan kita untuk menamainya demikian. Tidak ada "kebetulan" disisi ALLAH S.W.T.
Bukankah DIA Maha Mengetahui, Maha Berkuasa, Pengendali dan Pengatur alam ini?Sebahagian dari kebetulan-kebetulan itu tidak dapat ditafsirkan dengan teori kausalitas (sebab-akibat).

dari berbagai sumber

3.11.2005

Ibuku Hebat

Ibu. Kata yang kurindukan untuk menyebutnya. Ingin rasanya aku dekat lagi dengannya. Ingin ku bermanja dengannya seperti waktu aku masih kecil dulu. Ingin kumenangis lagi agar ia memperhatikan aku. Pernah suatu kali, ia mencubitku sampai meninggalkan tanda hitam di pahaku. Sakitnya bukan main. Jika mengingatnya aku ingin tersenyum sendiri. Tapi kini kusadari dibalik sikap “jengkelnya” masih ada lebih banyak rasa sayangnya.

Kusadari juga betapa tidak mudahnya tugas seorang Ibu. Ku bayangkan setiap hari mesti mengurus rumah tangga mulai urusan dapur, cuci-mencuci, membereskan rumah, melayani suami, dan menjaga anak-anakny hingga tertidur sampai larut malam.

Ku tahu sifat sayangnya begitu besar, terlebih sifat sabarnya. Karena memang mereka diberi karunia sifat yang lembut. Sifat yang unik yang tidak dimiliki lelaki.

Di tangan seorang Ibulah pendidikan seorang anak. Ibu menjadi tempat sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ibu mengajarkan sifat terpuji, berkata yang benar, berperilaku baik terhadap sesama, rasa sayang, cinta dan kejujuran. Dan Ibu pula berperan dalam pendidikan agama.

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi." (HR. Bukhari).

Alhamdulillah, diriku terlahir dalam keluarga muslim. Bagaimana jadinya jika aku lahir di tengah keluarga non muslim. Belum tentu aku mendapat hidayah-Nya untuk merasakan nikmatnya Islam dan Iman.

Ingin rasanya aku membalas jasa kedua orang tuaku. Ah, tapi tak mungkin. Jasa mereka tak terbalaskan. Aku hanya bisa berdoa untuk mereka. "Ya Allah ampuni dosa kedua orang tuaku. Sayangilah mereka seperti mereka mengasihi aku waktu kecil".

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan perkataan "ah", dan janganlah kamu membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra: 23).

Dari Abu Hurairah, dia berkata, telah datang kepada Rasulullah saw, seorang laki-laki lalu bertanya:, "Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak untuk saya pergauli dengan baik?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu" dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ayahmu". (HR Muslim)

Bunda, aku rindu dirimu, senyummu adalah surga.

3.07.2005

Tentang Cinta di Rumah Kita

In brief

M Fauzil Adhim

Sakinah Mawaddah Wa rahmah

Seperti kata Linda J. Waite, penulis buku Selamat Menempuh Hidup Baru (Qanita, Bandung), pernikahan yang hanya meneguhkan cinta dua orang akan mudah pudar. Perlu ada ikatan yang lebih besar, lebih suci, sehingga dalam pernikahan akan menyemai cinta yang menghidupkan jiwa. Cinta yang meredakan gejolak-gejolak jiwa, akan tumbuh hadir menyertai perkawinan, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri istri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum:21).

Sakinah hadir dengan sendirinya sebagai anugerah dari Allah yang menyertai setiap pernikahan. Ia tak perlu menjadi tujuan. Kelau kemudian tak ada sakinah dalam rumah tangga kita, ada yang perlu kita periksa dalam niat dan tujuan kita menikah, serta bagaimana kita merawatnya. Mawaddah wa rahmah –cinta yang bergelora dan kasih yang tulus- menilik ayat tadi akan ja’ala (diadakan, dijadikan) oleh Allah kepada sebagian hamba-Nya.

Mawaddah –berasal dari kata wudd- adalah cinta yang bergelora. Cinta yang utopis. Cinta yang membakar semangat sehingga menguatkan orang-orang yang lemah, menjadikan bersemangat orang-orang yang lemah harapan, menumbuhkan optimisme pada orang-orang yang jiwanya merasa tak berdaya. Cinta seperti inilah yang membuat kita tetap mampu tersenyum lebar meskipun perut terasa lapar. Allah Ta’ala akan akan tanamkan pada hati kita wudd apabila kita menegakkan iman dan amal shalih. Allah berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal-shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa cinta (wudd).” (QS. Maryam : 96).

Elaine N. Aron, penulis buku The Highly Sensitive Person in Love menunjukkan bahwa yang dapat memelihara cinta dalam perkawinan bukanlah kesamaan karakter, kesamaan hobi dan bukan pula rasa cinta yang mereka bawa sebelum memasuki perkawinan. Tetapi bagaimana mereka menjadikan perkawinannya sebagai sesuatu yang bersifat spiritual. Sebanyak apa pun perbedaan antara Anda dan istri atau suami Anda, jika diikat oleh ruh yang sama, maka seperti pasukan, Anda akam membentuk bariasan yang rapat, yang solid, yang kompak. Al-arwahu junudun mujannadah. (Sesungguhnya) ruh-ruh itu seperti pasukan yang berbaris (he... hm... kalau yang ini bukan dari Elaine N. Aron).

Cinta dan Barakah

Rasullah saw. melarang kita mendo’akan pengantin baru dengan do’a bahagia dan banyak anak, tetapi menyuruh kita mendo’akan agar pernikahan itu barakah. Apa istimewanya? Wallahu a’lam bishawab. Sepanjang saya tahu, di dalam pernikahan yang barakah pasti akan hadir sakinah mawaddah wa rahmah. Tetapi dalam pernikahan yang di dalamnya ada ‘ulfah (keharmonisan), belum tentu terdapat barakah. Secara sederhana barakah bermakna ziyadatul-khair. Kebaikan yang bertambah-tambah.

Apa yang mendatangkan barakah? Mari kita simak ayat berikut ini, ”Andaikata penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan bukakan untuk mereka barakah dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96).

Agar Cinta Bersemi Indah

Tetapi... setelah cinta hadir dalam pernikahan, padahal sebelumnya engkau tidak saling mengenal, maka ada yang perlu kita dan kita rawat. Apa saja yang perlu kita perhatikan? Inilah beberapa catatan yang menarik kita simak:

Bicaralah dengan Mesra

Al-Qur’an membari kita panduan berkomunikasi. Kepada publik, gunakan qaulan maysuran (berkata yang sederhana, mudah dimengerti). Kepada anak, pakailan qaulan sadidan (perkataan yang tegas, straight to the point, konsisten). Kepada orang yang keras kepala seperti Fir’aun berbicaralah dengan menyentuh (qaulan layyinan). Adapun kepada suami atau istri, Allah perintahkan kita untuk berbicara dengan qaulan ma’rufah (perkataan yang enak didengar, indah dirasa). Ini bukan soal apa yang kita bicarakan, tetapi bagaimana kita mengatakannya sebagaimana air mineral bisa bernama Aqua, bisa bernama Evian dan bisa juga bernama Qannat yang mengucapkannya saja bikin tenggorokan tersendat.

Ada Tiga Panggilan Untuknya

Rasulullah saw. memanggil istrinya, ‘Aisyah, dengan tiga panggilan. Panggilan yang berbeda mengisyaratkan suasana yang berbeda. Rasulullah saw. memanggil dengan sebutan “Ya Aisyah”, “Ya Aisy” dan “Ya Humaira”. Sebutan humaira’ (yang pipinya merah jambu) menunjukkan panggilan yang mesra. Nah, bagaimana kita memanggil istri atau suami di rumah?

Sebuah kekuatan di Telinga Kita

”Barangsiapa yang paling baik dalam mendengarkan,” kata ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu, “maka dialah yang segera mendapat manfaat.”

Man ahsanal istima’, ta’ajjalal intifa’.

Diane E. Papalia & Sally Wendkos Olds menulis dalam buku Human Development bahwa anugerah terindah bagi seorang wanita setelah menikah adalah ia mendapatkan orang yang mendengar keluh-kesahnya, kisah-kisah yang tak terlalu penting untuk diceritakan tetapi baginya sangat bermakna, serta tak terkecuali omelan-omelannya. Jika Anda ingin tahu apa yang paling ampuh meredakan rasa cemburu yang berapi-api dari seorang istri, lebarkanlah telinga Anda. Rasulullah saw. memberi contoh bagaimana mendengar dapat melahirkan kekuatan yang besar.

Maknanya adalah Pengakuan dan Penghormatan

Rasulullah Saw. bersabda ,”Engkau tak mungkin dapat memenuhi kebutuhan semua orang dengan hartamu; karenanya cukupilah semua dengan wajahmu yang gembira dan watak yang baik” (HR. Al-Hakim).

Suatu ketika Sa’d bin Hisyam bertanya kepada ‘Aisyah tentang akhlak Rasullah Saw. mendapat pertanyaan seperti itu, ‘Aisyah balik bertanya, “Apakah engkau membaca Al-Qur’an?”

“Tentu saja, “ kata Sa’d bin Hisyam menjawab.

“Akhlaknya adalah Al-Qur’an,” kata ‘Aisyah menerangkan. Tidak puas dengan jawaban itu, Sa’d bin Hisyam meminta ‘Aisyah untuk memberi jawaban yang rinci. Tetapi ‘Aisyah menyuruh orang untuk membaca sepuluh ayat dari surat Al-Mu’minun.

Sebagaimana Sa’d bin Hisyam, kita mungkin masih sulit membayangkan akhlak Rasullah Saw. Sa’d bin Hisyam yang hidup sezaman dengan Nabi Saw. saja masih meminta Ummul Mukminin ‘Aisyah untu merinci. Padahal ia masih sempat melihat Rasullah Saw. secara langsung. Ia juga membaca Al-Qur’an. Bahkan tak sekedar membaca, kehidupan para sahabat hingga tabi’in sangat dekat dengan Al-Qur’an. Akan tetapi, dengan keadaan mereka yang seperti itu saja, jawaban “akhlaknya adalah Al-Qur’an” dirasa masih kurang jelas. Lalu bagaimana dengan kita yang amat jauh dari Al-Qur’an? Mushhaf Al-Qur’an yang kita miliki lebih banyak dan lebih indah dari milik para sahabat, tetapi hampir tidak mengenalnya. Karena itu, untuk mengetahui akhlak Nabi Saw. secara lebih sempurna, marilah kita tengok Imam Al-Hafidz Imaduddin Abul-Fida Ismai bin Katsir. Dalam tafsirnya yang terkenal, Ibnu Katsir pernah menuliskan penuturan Atha’ sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawih:

“Saya, Ibnu Umar dan ‘Ubaid bin Amir pergi ke rumah ‘Aisyah r.a.. Kami pun masuk ke rumahnya. Antara kami dan dia terdapat hijab (sekat penutup), “ kata Atha’. Kemudian Atha’ menuturkan percakapan yang berlangsung di rumah ‘Aisyah:

“Hai ‘Ubaid,” kata ‘Aisyah, “ mengapa kamu tidak mengunjungiku?”

“Karena penyair mengatakan,” jawab ‘Ubaid, “Berkunjunglah dengan jarang, niscaya bertambah kecintaanmu.”

Ibnu Umar berkata, “Izinkan kami di sini sejenak dan ceritakanlah kepada kami perkara paling mempesona dari semua yang pernah engkau saksikan pada diri Nabi.”

‘Aisyah menarik nafas panjang. Kemudian dengan terisak menahan tangis, ia berkata dengan suara lirih, “Kaana kullu amrihi ‘ajaba. Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”

Masih dengan suara lirih, ‘Aisyah bercerita, “suatu malam, ketika dia tidur bersamaku dan kulitnya sudah bersentuhan dengan kulitku, dia berkata, ‘Ya ‘Aisyah izinkan aku beribadah kepada Tuhanku.’ Aku berkata, ‘Sesungguhnya aku senang merapat denganmu, tetapi aku juga senang melihatmu beribadah kepada Tuahanmu.’ Dia bangkit mengambil gharaba air, lalu berwudhu. Ketika berdiri shalat, kudengar dia terisak-isak menangis hingga airmatanya membasahi janggut. Kemudian dia bersujud dan menangis hingga lantai pun basah oleh air mata. Lalu dia berbaring dan menangis hingga datanglah Bilal untuk memberitahukan datangnya waktu subuh.”

‘Aisyah melanjutkan, “Bilal berkata, ‘Ya Rasulullah, kenapa engkau menangis padahal Allah telah ampuni dosa-dosamu baik yang terdahulu maupun yang akan datang.’ ‘Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur?’ kata Rasulullah, ‘Aku menangis karena malam tadi Allah telah turunkan ayat kepadaku, ‘Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.’ Kemudian Nabi bersabda, ‘Celaka orang yang membaca ayat ini namun tidak merenungkannya.’”

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad. Apa makna peristiwa ini? Pengharapan, pengakuan dan penghormatan terhadap eksistensi isteri. Uang belanja yang cukup saja tak cukup. Fasilitas saja tak bis merawat cinta. Ada yang tak bisa dibeli dengan uang, dan ia hanya bisa dibeli dengan penghormatan dan pengakuan.

3.04.2005

Perasaannya Selembut Sutera

Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka hati, fikiran, perasaan lelaki akan resah. Masih mencari walaupun sudah ada segala galanya.
Apa lagi yang tidak ada di syurga, namun Nabi Adam a.s tetap merindukan Siti Hawa. Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, isteri atau puteri.
Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau lelaki sendiri yang tak lurus, tdk mungkin mampu hendak meluruskan mereka.

Tak logik kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus.
Luruskanlah wanita dengan cara petunjuk Allah, karena mereka diciptakan begitu rupa oleh Mereka.
Didiklah mereka dengan panduan dariNya.

JANGAN COBA JINAKKAN MEREKA DENGAN HARTA,
NANTI MEREKA SEMAKIN LIAR.
JANGAN HIBURKAN MEREKA DENGAN KECANTIKAN,
NANTI MEREKA SEMAKIN MENDERITA.
Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal, disitulah kuncinya.

AKAL SETIPIS RAMBUTNYA, TEBALKAN DENGAN ILMU.
HATI SERAPUH KACA, KUATKAN DENGAN IMAN.
PERASAAN SELEMBUT SUTERA, HIASILAH DENGAN AKHLAK.

Suburkanlah karena dari situlah nanti mereka akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan.
Akan terhibur dan bahagialah hati mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana menteri negara atau women gladiator.
Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan. Sebaliknya disitulah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki-lelaki wajah : negarawan, karyawan, jutawan dan " wan-wan" lain. Tidak akan lahir superman tanpa superwoman.
Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan.
Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula membengkokkan.

LEBIH banyak LELAKI YANG DIRUSAKKAN OLEH PEREMPUAN
DARIPADA PEREMPUAN YANG DIRUSAKKAN OLEH LELAKI.
SEBODOH-BODOH PEREMPUAN PUN BISA MENUNDUKKAN SEPANDAI-PANDAI LELAKI

Itulah akibatnya apabila wanita tidak kenal tuhan. Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki. Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anak pun akan kehilangan ibu, suami kehilangan isteri dan bapa akan kehilangan puteri.
Bila wanita durhaka dunia akan huru-hara. Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa.
Para lelaki pula jangan hanya mengharap ketaatan tetapi binalah kepimpinan.

Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah PIMPINLAH DIRI SENDIRI DAHULU KEPADANYA.
Jinakkan diri dengan Allah, nescaya akan jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan kita.

JANGAN MENGHARAP ISTERI SEPERTI SITI FATIMAH,
KALAU PRIBADI BELUM LAGI SEPERTI SAYIDINA ALI